Senin, 11 November 2013

Mendefinisikan gelas

Beberapa hari kemarin, ketika seorang dosen menjelaskan sebuah mata pelajaran, dosen tersebut berkata: saya bisa dibilang sudah tamat mata kuliah ini, dan saya ingin mengeksplorasi mata kuliah yang lain, jadi tawaran mengajar mata kuliah ini tidak saya terima jika penerimanya sudah pernah mempelajari ilmu ini. Biasanya orang-orang yang sudah tahu susah dibentuk lagi pemahamannya dari awal.

Benarkah seperti itu?

Seringkali kemauan seseorang dalam menerima ilmu itu diibaratkan sebuah gelas yang berisi air. Jika kita selalu memposisikan gelas tersebut tidak penuh, maka air dapat terus masuk. Lalu dengan membayangkan bentuk gelas, yang ukurannya tetap, ke mana air yang masuk sebelumnya? Kenapa tidak penuh-penuh?

Saya kira, jika kita memposisikan kemauan kita menerima ilmu itu seperti gelas yang tak kunjung penuh, maka kita harus meningkatkan kualitas dan kapasitas gelas itu. Jika gelas yang kita pakai sama dan tetap saja tidak penuh, kita harus curiga dengan air yang masuk sebelumnya, bocor ke mana? Terbuang ke mana? Adakah bagian gelas yang retak?

Saya kira, baik kiranya kalau ilmu itu kita terima seperti air yang masuk ke dalam wadah kecil yang ada di dalam wadah yang lebih besar yang ada di wadah yang lebih besar lagi - begitu seterusnya - sehingga air yang masuk ke wadah kecil meluber dan ditampung di wadah yang lebih besar. Dengan begitu, air yang masuk tidak terbuang dan tetap bergerak, mengalir, jadi sehat.

Semoga ilmu kita seperti itu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar