Sabtu, 21 Desember 2013

Nanggung

Suatu hari saya duduk dengan teman-teman, laki-laki dan perempuan.
TL: Teman Laki-laki
TP: Teman Perempuan
S: Saya

TL: (melihat seorang perempuan pakai rok panjang transparan dengan rok rangkap sebatas bawah lutut dikit) Eh, aku tanya sama kalian para perempuan, kalo pake rok kayak gitu (nunjuk) maksudnya apa sih? Panjang tapi kelihatan betisnya.
TP: Lagi model tauk... Biarin aja.
TL: Hisss, nanggung. Malah bikin penasaran. Sekalian aja pendek, sekalian kelihatan.
S: Serem ah.
TL: Iya. Penasaran emang lebih serem. Hahahahahahaha

*Alloh menetapkan aturan pasti untuk kebaikan kita. Pasti. Terus belajar yuk! :)

Kamis, 14 November 2013

No idle time

Oya, saya jadi pengen cerita.

Suami saya itu kerjaannya di rumah, kalo lagi enggak sama saya, paling baca buku, sholat, baca Al Qur'an, dan dzikir. Kadang telpon orang rumah, ngobrol sama ibu atau saudara2nya.

Selain itu ya selayaknya manusia sehat. Gak perlu disebut lah apa itu.

Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Saya harus belajar darinya.

Jadi, gimana gak cinta coba? Hihihihi

*ditulis sambil kangen*

Senin, 11 November 2013

Mendefinisikan gelas

Beberapa hari kemarin, ketika seorang dosen menjelaskan sebuah mata pelajaran, dosen tersebut berkata: saya bisa dibilang sudah tamat mata kuliah ini, dan saya ingin mengeksplorasi mata kuliah yang lain, jadi tawaran mengajar mata kuliah ini tidak saya terima jika penerimanya sudah pernah mempelajari ilmu ini. Biasanya orang-orang yang sudah tahu susah dibentuk lagi pemahamannya dari awal.

Benarkah seperti itu?

Seringkali kemauan seseorang dalam menerima ilmu itu diibaratkan sebuah gelas yang berisi air. Jika kita selalu memposisikan gelas tersebut tidak penuh, maka air dapat terus masuk. Lalu dengan membayangkan bentuk gelas, yang ukurannya tetap, ke mana air yang masuk sebelumnya? Kenapa tidak penuh-penuh?

Saya kira, jika kita memposisikan kemauan kita menerima ilmu itu seperti gelas yang tak kunjung penuh, maka kita harus meningkatkan kualitas dan kapasitas gelas itu. Jika gelas yang kita pakai sama dan tetap saja tidak penuh, kita harus curiga dengan air yang masuk sebelumnya, bocor ke mana? Terbuang ke mana? Adakah bagian gelas yang retak?

Saya kira, baik kiranya kalau ilmu itu kita terima seperti air yang masuk ke dalam wadah kecil yang ada di dalam wadah yang lebih besar yang ada di wadah yang lebih besar lagi - begitu seterusnya - sehingga air yang masuk ke wadah kecil meluber dan ditampung di wadah yang lebih besar. Dengan begitu, air yang masuk tidak terbuang dan tetap bergerak, mengalir, jadi sehat.

Semoga ilmu kita seperti itu. :)

Jumat, 04 Oktober 2013

Yang Terlewatkan (part 2)

Nemu tulisan ini pas beres2 kosan. :D

CATATAN TERAKHIR

Tentu saja sebelum tidur. Di kamar ini.

Satu pertanyaan yang tiba2 melintas: kalau perpisahan sama orang, kita bisa salaman, peluk, cipika-cipiki, kasih hadiah. Kalo perpisahan sama rumah? Apa iya harus pelukin tembok tiap sudut rumah dan bilang: "I love you, muah, muah!"?
Tentu saja tidak. Hanya saja, aku cinta rumah ini. Yang kuusahakan kurawat sebaik2nya. Kuhias halamannya dengan tanaman2.  Sekarang dia sudah hampir berumur 3 tahun dan akan kutinggalkan. Sebenarnya lebih mellow kisah dengan rumah ini. Karena dia adalah saksi: ketika aku lelah sepulang kantor langsung kutinggalkan dia untuk terlelap. Ketika aku basah kehujanan kubawa beceknya ke dalam. Dia mendengar setiap tawa, tangis, doa, bacaan Al Qur'an, curhatan, kemarahan, suara2 dari telepon yang membuat aku membelainya atau memukulnya. Seandainya bisa kupeluk, akan kupeluk.
Terima kasih banyak, sayang. Maafkan aku belum jadi pemilik yang baik. Saatnya kamu berpindah tangan untuk sementara. Dan semoga kamu akan makin cantik seiring bertambahnya usiamu.

Kecup sayang,
yang membelimu tanggal 5 Mei 2010

:')

Rabu, 02 Oktober 2013

Alergi

Pelajaran intermediate accounting

Teman 1: *bersin* *suara hidung mampet*
Saya: flu?
Teman 1: alergi... Alergi soal susah...
Saya, teman 2, teman 3: *emo gubrak* hahahaha

*mengenang semester 7* :D

Kamis, 29 Agustus 2013

Unpredictable

Memperkenalkan: pemilik blog ini ---> bobubaca.wordpress.com

Kenal pertama sebagai kakak tingkat setahun di atas saya. Bagian penilaian dan evaluasi pas ospek. Sekilas tomboy. Netral: tidak pernah memihak siapapun pas ada konflik. Asik diajakin ngobrol, jalan, makan, apalagi kalo lagi bahas buku atau masakan atau kerajinan tangan. Oke, saya bilang, tidak kelihatan kalo lihat penampilan: ternyata suka masak, bikin baju dan aksesoris lain. Termasuk expert lagi. Serius. Beda.

Kayak buku. Mana tau kita isinya bagus apa enggak kalo gak kita buka covernya lalu kita baca. Bisa jadi apa yang terlihat di covernya itu gak sesuai yang kita bayangkan di isinya. Pun manusia. Mesti kita kenal dulu, baru kita tau dia orang seperti apa. Just that simple.

In the end - kalo ini sudah saya prediksikan- itu blog jarang dibersihin. Ada sarang laba-labanya. Hiiiii...

:p

Rabu, 24 Juli 2013

A cute little girl named Qinan

Sejarah bisa ketemu sama Qinan itu panjang. Dari mulai kenal sama papanya yang baik tapi absurd, mamanya yang ramah dan cantik, sampe main sama Qinan dari mulai dia diboyong papanya sampe sekarang.

Awal mula ketemu papa Qinan, si Mas An, itu memorable. Gimana enggak? Saya kenal beliau itu dari seorang teman akrab yang udah 3 tahun enggak ketemu, yang ternyata kerja satu instansi sama saya, tapi beda wilayah. Ceritanya si mas ini di-notadinas-kan ke wilayah kerja kantor saya.
Tau saya ada di situ, temen saya ini ngehubungin saya buat bantuin Mas An cari kosan di sekitaran kantor. Saya carikanlah kosan. Saya kasih tau juga kosan saya. Waktu itu Mas An belum nikah.
Kami komunikasi, banyak2 biar akrab gitu lah.. Namanya juga sama yg gak dikenal. Tapi ketemunya malah gak sengaja. Si mas ini dapat kos depan kos saya (kalo gak salah karena kos saya penuh), tapi ngetoknya kos saya. Ya biasa, sama ibu kos ditanya kerja di mana. Ternyata sama ya sayanya dipanggil. Hahahaha, ketemunya gak janjian. Ternyata orang jawa juga. Berasa jodoh gitu. Dari situlah kami mulai akrab. Lucunya, dia satu2nya orang di kantor yg saya ajak ngomong jawa. Berasa sodara beneran.
Ternyata Mas An udah punya calon istri. 10 bulan habis ketemu itu dia nikah. Kondanganlah saya sama beberapa temen kantor ke sana. Ketemu sama istrinya. Tiga bulan kemudian dibawa ke kosan. Sebagai satu2nya temen kantor cewek yang tinggal di situ, otomatis sering lah ngobrol sama istri Mas An, namanya Mbak I. Gak usah lama2, kami udah ngobrol banyak banget. Nyambung banget, terutama karena sama2 sulung. Hahahaha... Udah, siklusnya gituuuu terus. Sampe akhirnya saya pindah, mbaknya melahirkan di bulan yg sama saya pindah.
Setelah sekitar 3 bulan Qinan di rumah orang tua Mas An, diboyonglah ke kosan. Anaknya chubby, mirip banget papanya kalo dia kurus. Berhubung ngobrolnya dari jaman kenal sama mamanya, dari awal ketemu juga dia gak pernah rewel di gendong ke mana2. Kadang2 Mas An yang terusir keluar kalo kami lagi main. Sampe sekarang. Mulai mereka sekeluarga pindah ke kontrakan. Terus pindah ke kontrakan deket rumah. Hahahhahahahah... Kasihan. :p

Qinan makin lama makin genit. Kolaborasi mama papanya emang. Suka gaya kalo dipoto, ceriwis, gampang akrab, suka anak kecil dan kucing (kayak saya :D), suka nari2 dan nyanyi (grup favoritnya: Cherrybelle coba? -___-"), dan suka berantakin mainannya. Dia juga suka makan. Eh, lebih tepatnya makan sendiri, dan makan apa yang saya makan. XD

Mungkin memang saya menemukan keluarga ketika bertemu mereka. Mas An yang orang bilang dia jutek, gak gampang ramah sama orang, fine fine aja sama saya. Cerita macam2.. Ledek2an, kasih support dan saran. Paling care kalo ada masalah. Nemu sosok kakak banget di dia itu. Udah pada tau lah temen2 kantor soal hubungan saya sama Mas An. Terus Mbak I, yang mungkin harusnya paling jealous sama saya (hahahhahaha, apa juga yang mau di-jealousin), baik banget. Cerita2 sama Mbak I itu betah banget. Enak banget diajak ngobrol. Kasih nasehat.. Dan enggak keberatan anaknya dibawa ke mana2 sama saya. Dan Qinan. Saking deketnya mungkin. Udah mulai tau mana orang yang biasa main sama dia, udah betah kali ya? Pernah, habis main, mau pulang, gak boleh pulang sama dia. Sampe nangis teriak2 gak ngebolehin pulang. Sampe papanya turun tangan. Bukannya bantuin jagain, malah ngerepotin. T.T
Terakhir ketemu kemarin, Qinan udah bisa panggil "tante cipa". Pas ditinggal wudhu di kamar mandi, dia gedor2 pintu manggil2: tante cipa, tante cipa!!! Hahahahahha, Qinan... Qinan... Sayang banget sama Qinan *ciyum*

Main sama Qinan ngilangin stres beneran deh! :D
Sehat terus ya Qinan... Jadi anak shalihah.. Inget sama tante biarpun sekarang udah beda kota dan jarang ketemu.. Semoga tante masih bisa sering main ke sana ya? :')

Sabtu, 06 Juli 2013

About our beloved one

I called her Ibu.

Ya. Ibu. She had died since November 4th, 2012 because of tetanus. The infections spread very fast, so it just took 3 days of sickness. No hurt. Well. Great!

Soooo.. She's a beloved woman. She's talkative. But never talk about people or their things. She always be the first one who is asked if our neighbours got problem. She always be the first one who act if her siblings got problem. Whatever they asked, she gave. She never stop caring people. Money we had isn't worth. It's worth since you donate it. Ibu did it very well. People love her. Even, they still talk about her. Until now.

Actually, we lost her. Because we love her. She taught us that helping people is easy to do. No need to wish people help us back. But they'll do although we didn't ask. On the day she died, many people come. They cried, even yelled. But we, her family, did not feel sad anymore. We could give smiley face. Because she left peacefully, with smile too. Khusnul khotimah, insya Alloh. Yaaa every single of us wants the good end, right? And we want it too. Ibu did it first. What we should do is preparing. Noone knows when they die. All we can do is getting ready with the best preparations.

May she get the greatest place there. May we get to be together again in that greatest place. May all our life get ridho from Alloh Subhanahu Wata'ala. Aamiin.

Jumat, 05 Juli 2013

Films talk

Oke.

Jadi seminggu ini saya UTS, dan masih ada dua matkul lagi, tapi masih minggu depan.. Jadi saya sempatkan nonton film pulang ujian tadi.
Filmnya? Oh, Despicable Me 2 dan Monster University. Iya, nontonnya banyak anak kecilnya. Saya juga kecil. Jadi gak masalah.

Despicable Me. Dua statement yang membekas: "never grow older, agnes" dan ketika minion nyanyi: "underweaar...". Yang kedua ini bikin ngakak sampe nangis. Penasaran kenapa? Tonton aja! Hahahahha... Takut spoiller. :p

Monster University. Oh, bukan statement. Cuma satu hal yang saya tangkap. Si sullivan dan mike, mereka terdepak dari kampusnya padahal melakukan hal yang membanggakan, seharusnya. Mereka tidak lulus kuliah, bahkan di tahun pertama, tapi langsung dapat job di Monster, Inc. Mulai dari pengantar surat, sampe ke bagian produksinya. Saya kuliah, dn berusaha lulus, sekaligus bikin gebrakan juga. Jadi mustinya double keren dibanding mereka. Jadi kinerja saya, meski bukan dari nol, karena tidak mungkin, harus lebih keras dong. Biar kuliah bukan sekedar "iya, emang siklusnya gitu kan?" tapi lebih ke meningkatkan kompetensi buat menambah kualitas kinerja. Aplikasiii!!! :D

Oke. Yang kedua memang lebih serius. Jadi saya ulang lagi nonton yang pertama pada malam harinya. Yeeeeaaaayyy!!!! >,<9 XD

Sabtu, 18 Mei 2013

mind talk #2

sekedar berbagi solusi yang menurut saya efektif untuk menangani berbagai kejahatan di negeri ini.

yaitu: para pelaku peradilan plus penjahatnya bersumpah atas nama Tuhan dan kitab sucinya masing-masing, bahwa mereka benar, dan laknat akan sampai pada diri mereka jika apa yang mereka sumpahkan itu palsu. kalau memang spiritualitas itu penting dan privasi, dan memang mereka terapkan di kehidupan sehari-hari, seharusnya cara ini bekerja dong?
tidak perlu lagi berkelit dengan bukti-bukti yang kadang dimanipulasi. sudah dengan cara ini saja. sesuai dengan yang mereka percayai saja. karena jika seseorang mengaku ber-Tuhan, saya yakin, penjara jaaaaauh lebih baik baginya dibanding hukuman dari Tuhannya.

yaaa.... kecuali tidak punya Tuhan. saya tidak tahu golongan seperti apa jika kondisinya begitu. pun seorang atheis, tetap ber-Tuhan, yaitu akalnya.

semoga solutif ya? :)

soal sabar

Sabar ya?

Secara tanpa kita sadari, salah satu perbuatan baik ini menolong kita dalam mengatasi masalah. Sesuai dengan yang disebutkan di Al Qur'an, bergandengan dengan Sholat, sabar disebut-sebut sebagai penolong. Dan terbukti kan?

Dalam berbagai masalah, penyelesaian dengan menggunaka sabar ini dinilai 100% efektif. Sabar dapat menurunkan kadar emosi negatif dalam diri kita. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin tentu saja lebih bekerja dengan baik dibanding ketika kita masih kaget ketika menerima masalah tersebut.

Oke. Mari kita bicara hal positif jika membicarakan masalah menyeret otak kita ke persepsi negatif.
Hampir semua lini hidup kita memerlukan kesabaran. Dalam hal apapun. Bahkan dalam ungkapan "Semudah membalikkan telapak tangan", juga harus ada unsur sabar di situ. Membalikkan telapak tangan dengan cepat tanpa otak mempersiapkan kecepatannya dapat mengakibatkan terkilir, dan bila menyangkut nadi dan menyumbatnya malah bisa mengakibatkan kematian. Menyangkut tulang, juga dapat berakibat fatal karena termasuk sendi. Seserius itukah? Iya.

Karena itu kita bicara sabar dengan tidak main-main. Bila hal sekecil itu luput dari perhatian kita, bagaimana kita akan menyadari bahwa solusi seluruh kejadian yang kita alami salah satunya dengan bersabar? Bahwa dengan bersabar kita akan menjadi orang yang tidak tergesa-gesa, baik dalam berpikir maupun bertindak. Sehingga apapun yang kita lakukan terstruktur dengan baik, dengan pemikiran yang matang, sehingga kita dapat meminimalisir akibat buruk dari perbuatan kita. Untuk diri sendiri, dan pastinya juga orang lain.

Kiranya, memang benar kita harus jadi orang yang sabar.

Oke? Sabar ya? :)

Sabtu, 27 April 2013

Ini tentang kami

Gerombolan si hitam. Itu nama yang kami sematkan pada grup jalan-jalan kami yang kami mulai pada tanggal 22 April 2011. Alasannya sederhana: karena sepulang dari jalan-jalan kami yang pertama (di Karimunjawa), kami, tanpa terkecuali, menghitam. Ya, kecuali satu orang yang memang dari sananya.

Mulanya biasa saja.. Memang sesederhana itu. Dan mungkin memang kami sudah berjodoh, yang berarti dengan segala perbedaan yang ada kami malah saling melengkapi, kami pun jadi kompak. Mungkin melebihi grup jalan-jalan acak yang pernah ada. Dan saya bangga.

Kami punya grup di facebook, cara pertama agar dapat berkomunikasi tanpa sms. Dan ketika tidak semua orang buka facebook setiap hari, kami buat lagi grup gtalk. Suatu saat nanti saya ingin posting percakapan absurd dan rencana-rencana jalan-jalan kami selanjutnya di sana.

Gtalk tidak semulus yang direncanakan ternyata. Tidak semua bisa langsung terkoneksi internet setiap hari. Termasuk saya. Saya tidak tahu apakah ada grup BBM. Tapi ketika aplikasi whatsapp muncul, kami buat juga di sana. Percakapannya? Makin absurd. Buktinya sekarang kami sedang bahas maksud emoticon yang ada di whatsapp. Gak penting kan? Tapi bagi kami penting. Untuk kelangsungan persaudaraan ini. :)


Di kamar kos baru, whatsapp-an sambil baca novel Sherlock Holmes vs Kapten Kidd

Selasa, 09 April 2013

I called her: Wind!


Lebih tua sehari dibanding Cas.
Lebih narsis karena dia pegang kamera juga, DSLR, dan dia tau pose yang tepat untuk jadi bagus.
Disinyalir punya hubungan khusus dengan salah satu anggota gerombolan.
Mulai bergabung dengan gerombolan pada trip ke lombok (saya gak ikut karena lagi dirawat di RS).
Menghafal seluruh mantan dari laki2 yang punya hubungan dengannya.
Mudah akrab.
Punya perhatian yang besar pada pernak pernik kecil seperti: pita birunya -___-"
Dan satu2nya perempuan di gerombolan dengan predikat pasif: terroaming! XD


Oke, wind. Foto ya? Levitasi bagus tuh.. :D

Rabu, 13 Februari 2013

Jodoh.

Mari bicara soal jodoh.

Ehm. Akhirnya saya buka juga topik ini –yang selalu saya coba hindari- dengan basmalah. Bismillahirrohmanirrohiim.

Jadi, menurut saya konsep jodoh itu simple. Sesimple Alloh tentukan untuk masing-masing kita. Saya percaya, jodoh kita ada untuk kebaikan kita. Pasti, dia adalah yang terbaik buat kita. Dan pasti, dia adalah sesuai dengan yang kita usahakan. Yaa.. seperti tes aja gitu, yang belajar rajin yang paling tinggi nilainya di hadapan gurunya. Iyakah?

Satu. Kalo kita (saya dan dia, gitu lah singkatnya ya?) sama, maka saling menunjang.
Dua. Kalo kita beda, maka saling melengkapi.
Tiga. Kalo dia lebih tinggi, maka membimbing.
Empat. Kalo dia lebih rendah, maka mendukung.
Lima. Kalo kita ibarat kawan, maka saling menjaga.
Enam. Kalo kita ibarat musuh, maka saling mengoreksi.
Dan tujuh (sadly). Kalo kita tidak bertemu di dunia, maka bersabar. Karena manusia bukan tempat bersandar.

Ada lagi kah? Tapi apapun itu, saya yakin, pasti indah. Dan yang terbaik. Insya Alloh. :)